Индонезийский Общество
03.09.2026 Читать источник
В Яogyakarta родители ночуют в очередях за местами в популярной частной школе

Родители из разных районов Yogyakarta и прилегающих округов выстраивают многочасовые очереди, чтобы записать детей в престижный учебный центр Exist. Несмотря на отсутствие парковки и тесное расположение в жилом районе, школа сохраняет низкие тарифы и акцент на духовном воспитании.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
SEBUAH tempat bimbingan belajar (bimbel) di Kota Yogyakarta mendadak viral di media sosial pekan ini. Padahal, bimbel bernama Exist itu, lokasinya berada di tengah perkampungan padat penduduk di Kampung Gayam Kota Yogyakarta.
Jalan lokasi bimbel itu tak bisa dilalui mobil, hanya simpangan kendaraan bermotor. Karena membludak, motor para pengantre harus parkir di tepi jalan raya, bukan di dalam gang lokasi bimbel itu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Iklan
Awal pekan ini, sejak dini hari, ratusan orang tua calon siswa rela mengantre dan menginap di sekitar lokasi bimbel demi mendaftarkan anaknya. Salah satunya adalah Dita, warga Seturan Kabupaten Sleman. Ia ingin mendaftarkan anaknya yang merupakan siswa kelas 2 SMP. "Biar tahun depan anak saya bisa les di sini pas dia sudah naik kelas 10," ujarnya kepada Tempo, Kamis, 3 September 2026.
Dita mengaku akhirnya bisa mendapatkan kuota setelah rela antri sejak pukul 03.00 WIB pada Selasa dini hari, 1 September 2026. Hari ini, ia tinggal daftar ulang saja. Sementara sebagian orang tua yang berasal dari Kabupaten Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul yang lokasinya lebih jauh, musti menginap.
"Saya sekarang mendaftarkan anak kedua saya, dulu, empat tahun lalu, anak pertama juga les di sini dan berhasil masuk SMA 8 Kota Yogyakarta," kata Dita.
Lantas, apa yang membuat para orang tua itu rela mengantre demi kuota bimbel yang didirikan Yurin Gagarin, seorang pensiunan guru SMP 4 Kota Yogyakarta, sejak tahun 2000 itu?
Dita mengaku kaget bimbel itu viral. Sebab, menurut dia, bimbel itu sebenarnya tak pernah promosi seperti bimbel-bimbel besar dengan banyak cabang yang tersebar di Kota Yogyakarta. "Wong tahunya dulu juga gethok tular (mulut ke mulut) antar orang tua, karena yang les di sini kebanyakan berhasil masuk SMA favorit, dan juga tarifnya terjangkau," kata dia.
Menurut Dita, sejak ia mendaftarakan anak pertamanya, bimbel ini masih mematok tarif sama, yakni Rp 150 ribu setiap mata pelajaran untuk empat kali pertemuan dalam sebulan. Satu pertemuan berlangsung 90 menit. Total ada empat mata pelajaran saja yang diberikan.
Pendiri sekaligus pengelola Bimbel Exist Gayam, Yurin Gagarin, 62 tahun, mengungkapkan informasi mengenai bimbelnya tersebar melalui rekomendasi antarorang tua dan antaralumni yang merasa berhasil masuk SMA favorit yang dituju. "Sebetulnya setiap tahun saya tidak pernah melakukan promosi, mungkin dari mulut ke mulut saja," kata dia yang masih mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di bimbelnya, Kamis.
Ia menduga daya tarik utama bimbel yang berlokasi di dalam permukiman warga ini bersumber dari reputasi alumni yang konsisten menembus SMA negeri favorit. Contohnya SMA Negeri 3 Yogyakarta (Padmanaba), SMA Negeri 8 Yogyakarta, SMA Negeri 1 Yogyakarta (Teladan), SMA Taruna Nusantara, hingga sekolah unggulan di luar DIY.
Pendaftar yang datang pun tak hanya didominasi siswa dari sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta, tetapi merambah wilayah pinggiran dan luar kota seperti Magelang dan Solo, Jawa Tengah.
Bimbel yang telah berdiri sejak 2000-an ini menyimpan jejak sejarah panjang. Tempat belajar ini tercatat pernah menjadi pilihan bagi putra dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno sewaktu menjabat Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Ada dokter di sini yang sampai empat anaknya les di sini semua," kata Yurin.
Meski lonjakan peminat terus membludak, Yurin mengaku tetap membatasi kuota sekitar 400 siswa per angkatan. Kuota ini diterapkan sejak dua tahun terakhir karena peminat makin banyak dan ia tak mau mengorbankan kualitas pembelajaran.
Kebijakan ini juga diterapkan secara ketat demi menjaga kenyamanan serta efektivitas proses di dalam kelas. "Kami hanya punya lima kelas setiap tahunnya, satu kelas maksimal 20 anak, biar belajarnya nyaman dan kualitasnya baik," kata Yurin.
Lima kelas itu tersebar di dua lokasi saling berdekatan di dalam kampung yang sama. Tiga kelas di lantai dua rumahnya dan dua kelas lain menyulap bekas kamar indekos miliknya di belakang rumah.
Yurin mengaku, ia dan suaminya sudah tak berniat ekspansi atau menjadikan usaha bimbel itu lebih luas dan menyerap banyak murid. "Kami merasa sudah berkecukupan, anak juga sudah kerja dan mapan semua, jadi kami cukup dengan seperti ini saja," kata Yurin.
Yurin mengaku pernah menolak tawaran kerja sama ekspansi maupun pembukaan cabang di lokasi lain ketika ada yang menawari. Bahkan ada yang menawari sebuah lahan kosong dengan area luas dilengkapi tempat parkir. Namun ia dan suaminya menolak. "Tak ada habisnya kalau mengejar uang, bukan itu yang kami kejar, di usia ini sudah saatnya memikirkan akhirat," kata dia.
Alasan itu yang membuatnya sampai sekarang tak pernah menaikkan tarif agar para orang tua tak mampu tetap tetap bisa menitipkan anaknya belajar di bimbel miliknya. "Karena saya dan Bapak (suami) juga tinggal berdua saja, sudah semeleh (pasrah), yang penting itu mencari barokahnya," kata dia.
Bimbel ini mempekerjakan sekitar 10 tenaga pengajar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta IPA yang dipisah spesifik antara Fisika dan Biologi. Seluruh pengajar merupakan guru-guru sekolah berpengalaman, dan bukan dari kalangan mahasiswa magang.
Proses seleksi guru dipantau langsung oleh Yurin guna memastikan bahwa tenaga pengajar tidak sekadar cerdas secara akademis, melainkan cakap dalam membawakan materi, tidak kaku, serta mampu menjalin ikatan emosional dengan siswa layaknya teman. "Pernah ada guru, pintar sekali, mengajar di sini. Tapi anak-anak mengeluh tak bisa menangkap pelajarannya, akhirnya terpaksa dihentikan," kata dia.
Metode yang diterapkan Yurin terbilang sederhana agar siswa didiknya menguasai materi.
Pertama, ketika siswa mulai belajar, mereka harus mengenal akrab kawan-kawan di kelasnya dan gurunya. Bahkan, mereka diberi waktu berkenalan. Hal itu dilakukan agar siswa merasa nyaman dan tak asing, yang kemudian bisa menangkap materi yang diajarkan. Guru dan antara siswa tak boleh berjarak dan kaku, suasana kelas harus cair. Dari sapaan nama dan interaksi dibuat nyaman dan akrab. "Kalau siswa itu sudah sungkan di dalam kelas, semuanya bubar, pelajaran tak ada yang bisa masuk," kata dia.
Kedua, para siswa juga diajak berdiskusi saat pelajaran diberikan. Hal ini membuat mereka lebih bisa saling mengkoreksi dan mengingatkan. Tak ada persaingan dalam kelas.
Hanya saja, ketika para siswa itu di sekolah masing-masing mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran ujian akhirnya, Yurin tak segan memberi apresiasi. "Mereka yang nilai ujian akhirnya dapat nilai 100, kami memberikan apresiasi kecil misalnya Rp 100 ribu," kata Yurin terkekeh.
Ketiga, Yurin mengaku tak merekrut tenaga pengajar sembarangan. Ia hanya merekrut guru atau mantan guru relasinya, terutama yang punya karakter bisa ngemong dan jadi teman siswa. "Saya sengaja tak merekrut kalangan seperti mahasiswa akhir yang memberi les atau guru yang tak dikenal agar bisa turut monitoring pembelajarannya," kata dia.
Di samping itu, semua guru ia anjurkan untuk menyisipi materi karakter dan keagamaan secara umum. Misalnya dengan memberi kesempatan siswa untuk beribadah saat azan magrib. "Harapan kami, saat mereka lulus nanti, mereka tidak hanya pintar dunia, tetapi juga menjadi generasi yang beriman, dan berakhlak," ujar Yurin.
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«Йокогакарта родители очередь частная школа Exist»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
По словам эксперта в области PR, многие родители шутят, что после появления детей становятся для них персональными таксистами: школа, секции, кружки — и так каждый день.
Стокгольмская школа экономики была создана в 1909 году, это один из немногих частных вузов страны.
В 29 школах Оренбургской области внедрили проход через турникеты по «Карте оренбуржца» с возможностью дистанционного контроля посещаемости для родителей.