Индонезийский Культура
06.07.2026 Читать источник
Докторант из Индонезии изучила трансформацию эстетики традиционного фестиваля Рейог Понорого

Исследование диссертации показывает, как национальный фестиваль превратил народное искусство в конкурентную сцену, где доминируют группы с большим экономическим и культурным капиталом. Автор вводит новый концепт «эмоционального капитала», объясняющий, как аутентичность и традиции становятся стратегическим ресурсом в борьбе за символическую власть.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
Jakarta (ANTARA) - Promovenda atau calon mahasiswa doktor perempuan Universitas Indonesia Nursilah meneliti transformasi estetika Reyog Ponorogo untuk disertasi berjudul "Transformasi Estetika Seni Reyog Ponorogo dalam Proses Kreatif Tiga Grup Reyog di Arena Festival Nasional Reyog Ponorogo".
“Kesenian Reyog Ponorogo tidak lagi sekadar dipentaskan sebagai tradisi masyarakat, tetapi telah mengalami transformasi menjadi seni pertunjukan kompetitif yang dipengaruhi standar penilaian, inovasi artistik, hingga persaingan antarkelompok,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian doktoral Nursilah dari Program Studi Ilmu Susastra. Dirinya mengkaji perubahan estetika Reyog melalui tiga grup peserta Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP), yakni Grup Gajah Manggolo, Grup Kawulo Bantarangin, dan Grup Bantarangin Jakarta pada periode 2015–2024.
Ia mengatakan disertasi ini mengungkap bahwa pelembagaan Festival Nasional Reyog Ponorogo telah mendorong perubahan besar dalam proses kreatif para pelaku seni.
Baca juga: Reyog Ponorogo ditampilkan dalam syukuran penetapan warisan budaya
Menurut dia, penelitian tersebut bertujuan menganalisis transformasi estetika ketiga grup Reyog dalam kerangka performativitas seni.
Hal itu, sekaligus mengkaji bagaimana modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik dimanfaatkan untuk membangun strategi kreatif serta memperebutkan posisi dominan dalam arena festival.
Dalam promosi doktoral Ilmu Pengetahuan Budaya di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung Hoesein Djajadiningrat, Universitas Indonesia, Sabtu (4/7), dirinya memaparkan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif, penelitian dilakukan melalui observasi, analisis rekaman pertunjukan Festival Nasional Reyog Ponorogo edisi 2015–2024.
Selain itu, wawancara mendalam dengan dewan juri, panitia, koreografer, dan pengurus peguyuban, serta studi dokumentasi berbagai literatur resmi festival.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi estetika Reyog diwujudkan melalui perpaduan teknik gerak, pengelolaan komposisi panggung prosenium yang lebih terstruktur, hingga perubahan desain dramatik, seperti penggunaan pola flashback.
“Seluruh perubahan tersebut merupakan respons para koreografer terhadap tuntutan durasi pertunjukan dan kriteria penilaian dalam kompetisi,” kata dia.
Penelitian ini juga menemukan bahwa Festival Nasional Reyog Ponorogo menjadi arena sosial yang memperlihatkan ketimpangan kepemilikan modal antarkelompok seni.
Grup Bantarangin Jakarta dinilai mampu mendominasi melalui dukungan modal ekonomi yang besar sehingga menghadirkan pertunjukan dengan visual yang spektakuler.
Grup Gajah Manggolo mengandalkan modal budaya melalui sistem pendidikan yang menghasilkan disiplin teknik pertunjukan, sedangkan Grup Kawulo Bantarangin mempertahankan eksistensi dengan mengedepankan nilai lokal, religiusitas, dan keaslian tradisi sebagai kekuatan utama meski memiliki keterbatasan finansial.
Menurut Nursilah, dominasi modal dalam arena festival turut memengaruhi perubahan habitus para pelaku Reyog.
"Spontanitas yang selama ini menjadi ciri pertunjukan tradisional perlahan menyesuaikan diri dengan tuntutan koreografi modern yang lebih terukur," katanya.
Disertasi ini menyimpulkan bahwa transformasi estetika Reyog di panggung festival bukan semata-mata lahir dari kreativitas seniman, melainkan hasil negosiasi nilai, persaingan sosial, serta komodifikasi karya dalam upaya memperoleh pengakuan dan kekuasaan simbolik.
Sebagai kontribusi ilmiah, penelitian ini memperkenalkan konsep "Modal Rasa" sebagai pengembangan dari teori modal budaya Pierre Bourdieu.
“Konsep tersebut menjelaskan bahwa lokalitas, insting ketubuhan tradisi, dan autentisitas budaya tetap menjadi modal penting yang memiliki nilai tawar di tengah semakin kuatnya kapitalisasi dalam industri festival seni,” kata dia.
Dalam disertasi, Nursilah dibimbing promotor Shuri Mariasih Gietty, Ph.D serta ko-promotor Dr. Turita Indah Setyani dan Dr. M. Yoesoef.
Baca juga: Khofifah dorong penguatan ekosistem Reyog pascapengakuan UNESCO
Baca juga: Menteri Kebudayaan apresiasi upaya pelestarian Reyog Ponorogo
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«трансформация эстетики реёг Понорого диссертация Нурсила фестиваль»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
Результаты поиска отсутствуют в БД
Парсер не сохранил результаты веб-поиска для этой статьи.