Индонезийский Медицина
06.07.2026 Читать источник
Ученый-мусульманин получил разрешение на исследования с использованием свиней для медицинских целей
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buya-Yahya-Ceramah-Tentang-Kurban.jpg)
Авторитетный исламский проповедник Буйя Яхья разъяснил, что взаимодействие с свиньями не запрещено мусульманам, если это необходимо для медицинских исследований и разработки лекарств. Он подчеркнул, что запрет касается исключительно употребления в пищу, а для научной работы требуется лишь предварительное очищение одежды от следов животного.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
Kajian Islam
Hukum Muslim Meneliti Babi untuk Riset Kedokteran, Buya Yahya: Boleh, Asalkan untuk Tujuan Ini
Buya Yahya menilai masih banyak anggapan bahwa segala bentuk interaksi dengan babi merupakan sesuatu yang terlarang.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM - Seorang calon mahasiswa yang hendak melanjutkan studi di bidang kedokteran mengajukan pertanyaan kepada Buya Yahya terkait hukum terlibat dalam penelitian yang menggunakan babi sebagai hewan percobaan.
Dalam pertanyaannya, ia menjelaskan bahwa proyek penelitian tersebut berasal dari negara nonmuslim.
Penelitian itu mengharuskannya berinteraksi langsung dengan babi, mulai dari memeliharanya hingga menggunakan darah dan organ babi untuk analisis obat yang sedang diteliti.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menyatakan bahwa seorang muslim diperbolehkan bersentuhan dengan najis, termasuk babi, apabila memang diperlukan untuk kepentingan medis dan kesehatan.
"Untuk kepentingan medis kesehatan, kita boleh bersentuhan dengan najis kalau memang dibutuhkan," ujar Buya Yahya, dikutip Senin (6/7/2026).
Ia menjelaskan, yang dilarang adalah sengaja berlumuran najis tanpa adanya kebutuhan.
Baca juga: Apakah Mengatakan Kayaknya Dia Pencurinya Termasuk Suuzan? Ini Penjelasan Buya Yahya
Sebaliknya, apabila dilakukan untuk tujuan penelitian atau pengembangan ilmu kedokteran, maka hal tersebut diperbolehkan.
Buya Yahya menilai masih banyak anggapan bahwa segala bentuk interaksi dengan babi merupakan sesuatu yang terlarang.
Padahal, menurutnya, yang secara tegas diharamkan adalah mengonsumsi daging babi.
"Yang dibahas besar itu adalah babi tidak boleh dimakan. Itu selesai," katanya.
Sementara itu, terkait kenajisan babi, Buya Yahya menjelaskan bahwa apabila darah atau bagian tubuh babi mengenai pakaian yang akan digunakan untuk salat, maka pakaian tersebut harus disucikan terlebih dahulu.
Ia mencontohkan, kondisi tersebut pada dasarnya sama seperti ketika pakaian terkena bangkai tikus atau najis lainnya, yakni harus dibersihkan sebelum digunakan untuk beribadah.
Baca juga: Buya Yahya Ingatkan Jemaah yang Bau Badan atau Bau Mulut, Sebut Ada Kondisi Sebaiknya Tak ke Masjid
Buya Yahya juga menerangkan bahwa perbedaan antara najis mughallazah, mutawassithah, dan mukhaffafah terletak pada tata cara penyuciannya, bukan pada sah atau tidaknya salat.
Menurutnya, dalam mazhab Syafi'i, babi dipersamakan dengan anjing sehingga penyuciannya dilakukan sebanyak tujuh kali basuhan. Sementara pada mazhab lain, babi diperlakukan sebagaimana najis biasa.
Karena itu, ia menegaskan tidak ada larangan bagi seorang muslim untuk menggunakan babi sebagai objek penelitian apabila tujuannya untuk kepentingan medis.
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«Можно ли мусульманину исследовать свинью для медицинских целей»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
Результаты поиска отсутствуют в БД
Парсер не сохранил результаты веб-поиска для этой статьи.