Индонезийский Наука и Образование
27.08.2026 Читать источник
Докторант из Индонезии создал нанокуркумин с растворимостью 84% и антиоксидантной активностью в 15 раз выше обычной

Исследовательница Анитарахми Хандаратри разработала технологию получения наночастиц куркумина методом ультразвуковой обработки, что позволило значительно повысить их усвояемость организмом. Результаты ее докторской диссертации, защищенной в июле 2026 года, открывают перспективы для создания промышленных функциональных продуктов на основе трав.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
Ringkasan Berita:
- Dosen ITN Malang Anitarakhmi Handaratri mengembangkan kurkumin berukuran nano dari kunyit dan temulawak.
- Nanokurkumin dibuat dengan metode ultrasound-assisted liquid antisolvent (UALA) berukuran 100–350 nanometer.
- Penelitian menunjukkan disolusi mencapai 84,20 persen dan aktivitas antioksidan meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan kurkumin konvensional.
- Riset doktoralnya di ITS Surabaya diarahkan menuju pengembangan produk herbal fungsional dan produksi skala industri.
Malang (beritajatim.com) – Dosen Teknik Kimia S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Dr. Anitarakhmi Handaratri, ST., MT., mengembangkan teknologi untuk meningkatkan pemanfaatan kurkumin, senyawa bioaktif yang terdapat pada kunyit dan temulawak.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari penelitian doktoralnya di bidang Teknik Kimia (Teknologi Proses) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang diselesaikannya pada Juli 2026. Riset tersebut dibimbing Prof. Dr. Ir. Sumarno, M.Eng. dan Firman Kurniawansyah, ST., M.Eng.Sc., Ph.D.
Anita menjelaskan, kurkumin memiliki sejumlah kendala ketika dikonsumsi secara langsung. Senyawa tersebut mudah rusak akibat panas dan cahaya serta memiliki kelarutan yang rendah dalam air. Kondisi itu membuat penyerapannya oleh tubuh menjadi terbatas.
“Kalau dengan direbus, pigmen warnanya yang punya khasiat antibiotik dan antioksidan itu gampang rusak karena kena panas. Makanya, kami mencari cara yang lebih efektif lewat rekayasa teknologi supaya manfaat kunyit ini bisa diserap maksimal oleh tubuh,” kata Anita, Kamis (27/8/2026).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Anita mengecilkan ukuran partikel kurkumin dari skala mikrometer menjadi nanometer, yakni sekitar 100 hingga 350 nanometer. Teknologi yang digunakan adalah ultrasound-assisted liquid antisolvent (UALA), perpaduan gelombang ultrasonik dan larutan antisolven.
Dalam prosesnya, kurkumin terlebih dahulu dilarutkan menggunakan aseton atau diklorometana (DCM). Larutan tersebut kemudian diinjeksikan ke dalam air sebagai antisolven sambil diaduk secara mekanis dengan kecepatan tinggi pada kondisi suhu dan durasi tertentu.
Gelombang ultrasonik membantu mempercepat pembentukan inti partikel sekaligus mencegah partikel kembali menggumpal. Anita mengatakan metode tersebut dipilih dengan pertimbangan efisiensi dan biaya agar lebih mudah dikembangkan.
“Bedanya, kalau di luar sana sudah banyak yang memakai homogenizer atau kondisi superkritis. Kami coba pakai pendekatan yang paling sederhana dan ramah proses. Tapi, tantangannya kami harus merakit sendiri alat pengaduk mekanisnya dan menjaga alur injeksi cairan di setiap titik agar konsisten,” ucap Anita.
Dalam tahap lanjutan, Anita menggunakan lesitin alami sebagai lapisan pelindung nanopartikel. Hasil pengujian menunjukkan nanokurkumin tetap stabil pada kondisi pH 1,2 dan pH 7,4 serta selama penyimpanan 30 hari.
Tingkat disolusi atau kelarutannya tercatat mencapai 84,20 persen. Sementara itu, pengujian laboratorium menunjukkan aktivitas antioksidan nanokurkumin hingga 15 kali lebih kuat dibandingkan kurkumin konvensional.
Perjalanan riset tersebut tidak sepenuhnya mulus. Draf publikasi awal beberapa kali ditolak penerbit ilmiah internasional sehingga Anita harus melakukan sejumlah revisi. Namun, penelitian berikutnya berhasil dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi yang masuk kategori Scopus Q1 dan Q2.
“Jurnal pertama sempat ditolak beberapa kali sampai harus banyak merevisi. Tapi begitu masuk paper kedua, alhamdulillah langsung diterima,” tuturnya.
Penelitian yang mencakup pemodelan kinetika disolusi dan Response Surface Methodology (RSM) itu kemudian mendapat masukan dari para penguji agar dikembangkan menuju perancangan reaktor skala industri.
“Penguji kemarin menyarankan agar penelitian ini bisa ditarik lebih jauh ke arah kinetika proses yang terhubung langsung dengan desain alat produksi skala industri. Harapan saya riset ini kelak betul-betul bisa direalisasikan menjadi produk kapsul atau minuman herbal fungsional yang siap dikonsumsi masyarakat,” ungkapnya. [dan/beq]
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«докторант Индонезия нанокуркумин растворимость 84%»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
Результаты поиска отсутствуют в БД
Парсер не сохранил результаты веб-поиска для этой статьи.