Индонезийский Наука и Образование
06.07.2026 Читать источник
Исследование: люди слишком оптимистично просят о помощи, игнорируя риск отказа

Новое исследование UCLA показало, что большинство людей используют оптимистичный подход при просьбах о помощи, не учитывая вероятность отказа. Эксперты рекомендуют адаптировать стиль обращения к ситуации, чтобы повысить шансы на успех и сохранить качество отношений.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
Jakarta (ANTARA) - Cara seseorang mengajukan permintaan bantuan dapat memengaruhi peluang permintaan tersebut dikabulkan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan banyak orang justru cenderung terlalu optimistis saat meminta tolong kepada orang lain.
Dilansir dari laman Psychology Today pada Minggu waktu setempat, penelitian yang dipimpin sosiolog Andrew Chalfoun dari University of California, Los Angeles (UCLA) mengidentifikasi tiga pendekatan utama yang digunakan seseorang saat meminta bantuan.
Pendekatan pertama adalah pesimistis, yaitu memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menolak, misalnya dengan mengatakan, "Saya tahu Anda mungkin sibuk, tetapi...".
Baca juga: Mengapa prinsip hidup seseorang bisa berubah? Ini penjelasan psikolog
Pendekatan kedua adalah sopan rasional, yakni menyesuaikan cara meminta berdasarkan besarnya bantuan yang diminta dan kedekatan hubungan dengan orang tersebut.
Sementara pendekatan ketiga adalah optimistis, yaitu mengajukan permintaan dengan asumsi bahwa permintaan akan dipenuhi.
Untuk mengetahui pendekatan yang paling sering digunakan, peneliti menganalisis hampir 92 jam percakapan yang mencakup 194 peristiwa permintaan bantuan dalam tujuh bahasa, yakni Arab, Inggris, Italia, Longando, Saek, Siwu, dan Ticuna.
Baca juga: Psikolog: Menunda pekerjaan tidak selalu buruk bagi kreativitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan bantuan dalam skala besar hanya dikabulkan sekitar 11 hingga 25 persen. Meski demikian, sebagian besar orang tetap memilih pendekatan optimistis dan jarang menggunakan kalimat pembuka yang memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk menolak secara halus.
Menurut peneliti, temuan tersebut menunjukkan adanya bias kognitif yang membuat seseorang lebih berfokus pada kemungkinan terbaik dibandingkan mempertimbangkan risiko penolakan.
Peneliti menilai pendekatan yang paling efektif bukanlah selalu optimistis atau pesimistis, melainkan menyesuaikan cara meminta bantuan dengan situasi.
Baca juga: Psikolog: “Burnout” dan kelelahan fisik beda secara psikologis
Permintaan yang besar kepada orang yang tidak terlalu dekat sebaiknya disampaikan dengan memberi ruang bagi lawan bicara untuk menolak tanpa merasa sungkan. Sebaliknya, permintaan yang lebih kecil kepada orang terdekat dapat disampaikan secara lebih langsung.
Selain meningkatkan peluang memperoleh bantuan, cara menyampaikan permintaan yang tepat juga dinilai dapat menjaga kualitas hubungan.
Menurut peneliti, permintaan yang terlalu mengasumsikan jawaban "ya" dapat membuat orang lain merasa tidak enak ketika harus menolak, sehingga berpotensi menimbulkan rasa bersalah dan ketidaknyamanan dalam hubungan.
Baca juga: Psikolog: Atasi cemas dalam pekerjaan demi jaga produktivitas
Baca juga: Psikolog: Sensitivitas sinyal diri butuh diperhatikan
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«как просить о помощи оптимистично или с возможностью отказа исследование UCLA»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
Результаты поиска отсутствуют в БД
Парсер не сохранил результаты веб-поиска для этой статьи.