Индонезийский Медицина
04.09.2026 Читать источник
BPOM и CEPI проработали план разработки вакцин за 100 дней до начала пандемии

В Индонезии прошел учений по сценарию создания вакцин за 100 дней, где регулятор BPOM подтвердил готовность национальной системы к будущим угрозам. Участники обсудили необходимость координации всех секторов для ускорения разработки при сохранении стандартов безопасности.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
...Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun saat pandemi telah terjadi tetapi harus dikoordinasikan dan diuji sebelum ancaman muncul
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan mengatakan, pihaknya mengupayakan akselerasi pengembangan vaksin dalam waktu 100 hari guna mitigasi pandemi masa depan, dan gagasan tersebut disampaikan dalam Table Top Exercise (TTX): “100 Days Mission in Indonesia Project”.
Misi 100 Hari (100 Days Mission) adalah inisiatif ambisius yang dipelopori oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dan didukung oleh negara-negara G7 dan G20 untuk mempercepat pengembangan vaksin terhadap ancaman baru dalam waktu 100 hari.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan di Jakarta, Jumat, berkaca dari pengalaman saat dunia menghadapi pandemi COVID-19, waktu 100 hari adalah sepertiga dari waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan vaksin COVID-19 pertama. Dengan begitu, vaksin dapat siap untuk memperoleh otorisasi awal dan diproduksi skala besar dalam waktu 100 hari sejak teridentifikasinya patogen pandemi.
Target pengembangan vaksin dalam waktu 100 hari juga menjadi komitmen pihaknya untuk mendukung terwujudnya kesiapsiagaan pandemi terintegrasi ke dalam sistem operasional dan kebijakan nasional.
Taruna memastikan bahwa target tersebut akan dicapai dengan tetap mengedepankan standar keamanan, efikasi, dan mutu produk tanpa kompromi.
Baca juga: Bio-RV, Vaksin Rotavirus Neonatal Kolaborasi Bio Farma dan MCRI, Peroleh Izin Edar BPOM RI
“Pandemi tidak memberikan peringatan. Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun saat pandemi telah terjadi, tetapi harus dikoordinasikan dan diuji sebelum ancaman muncul,” ujar Taruna Ikrar dalam sambutannya.
Menurutnya, pendekatan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah (Academia, Business, and Government/ABG) menjadi kunci efektivitas ekosistem kesehatan.
Senada, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah memperkuat subsistem surveilans nasional. Dengan 10.000 fasilitas kesehatan primer, Indonesia mengintegrasikan teknologi genome sequencing dan point-of-care testing guna mendeteksi ancaman patogen secara dini.
Budi menilai investasi pada sistem kesehatan jauh lebih berharga untuk menyelamatkan nyawa.
"Jika kita mengetahui bahwa sesuatu dapat membunuh jutaan atau bahkan miliaran manusia, maka kita harus mempersiapkan diri. Kita harus menginvestasikan lebih banyak uang dan sumber daya untuk menyelamatkan manusia," ujarnya.
Chief Executive Officer CEPI Richard Hatchett mengapresiasi posisi strategis Indonesia yang kini berstatus WHO-Listed Authority (WLA). Kapasitas regulasi dan manufaktur nasional dianggap mampu menjadi tulang punggung keamanan kesehatan regional dan dapat mendukung pencapaian target 100 hari untuk pengembangan vaksin.
Baca juga: BPOM: Regulasi yang adaptif genjot inovasi pengobatan presisi dan ATMP
Richard menyebut bahwa target 100 hari bukan sekadar ambisi teknologi, melainkan penentu apakah sebuah wabah akan terkendali atau berubah menjadi krisis global.
Deputy WHO Representative Tara Kessaram mengingatkan bahwa kecepatan proses pengembangan harus berjalan selaras dengan keadilan akses.
"Keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat vaksin dikembangkan, tetapi seberapa cepat vaksin tersebut menjangkau orang yang paling membutuhkan," kata Tara.
Menurutnya, surveilans, penelitian, regulasi, manufaktur, rantai pasok, dan pelayanan kesehatan harus bekerja sebagai satu ekosistem. Kesiapan harus dibangun sebelum keadaan darurat melalui mekanisme koordinasi dan pengambilan keputusan yang telah diuji sebelumnya.
Kegiatan TTX yang digelar selama 2 hari hingga Jumat diikuti oleh partisipan dari beberapa kementerian/lembaga, antara lain BPOM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Luar Negeri, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Selain itu, hadir pula partisipan dari periset klinis, universitas, serta industri vaksin dalam negeri.
Selama 2 hari, para partisipan dipandu oleh fasilitator untuk membahas serangkaian tahapan yang selaras dengan unsur-unsur fungsional 100DM untuk vaksin dengan menggunakan skenario wabah hipotetis.
Pada tiap tahapan, fasilitator menyampaikan pembaruan skenario dan mengajukan pertanyaan kepada para partisipan untuk mendiskusikan rencana, kapasitas, dan kerangka kerja yang relevan untuk mengeksplorasi potensi kekurangan, hambatan, atau perbedaan pandangan antar organisasi.
Mekanisme tersebut sekaligus menyimulasikan kondisi jika terjadi pandemi kesehatan di masa mendatang agar seluruh lintas sektor yang terlibat dapat merespons cepat kebutuhan kerja sama dan tindakan yang perlu dilakukan untuk menghadapinya.
Baca juga: BPOM beri izin edar terapi gen pertama untuk pasien atrofi otot spinal
Baca juga: BPOM butuh sekitar 4000 pegawai guna topang program prioritas nasional
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«BPOM CEPI разработка вакцин 100 дней Индонезия»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
Страны и города. Валюта. Визы. Погода. Виды туризма. Авиакомпании. Виджеты. Туры-онлайн.