Индонезийский Общество
03.09.2026 Читать источник
В Индонезии сообщество Ballroom создает безопасное пространство для ЛГБТК+ в условиях растущих угроз

В Индонезии активисты сообщества Ballroom строят защищенную среду для трансгендерных и ЛГБТК+ людей, внедряя строгие процедуры безопасности и проверки участников. Эта субкультура, зародившаяся в Нью-Йорке, стала в стране инструментом сопротивления и взаимной поддержки на фоне усиливающейся нетерпимости.
Перевод ИИ
Текст статьи доступен на языке оригинала.
Нажмите кнопку «Перевести статью» выше, чтобы сгенерировать перевод с помощью ИИ.
Оригинальный контент
SuaraKita.org – Bagi sebagian orang, Ballroom mungkin terdengar asing, bahkan bagi komunitas Ragam Gender dan Seksual di Indonesia itu sendiri. Bagi komunitas yang menjalani dan membangunnya, Ballroom tak hanya sekadar ruang berekspresi atau tarian voguing, melainkan juga sebuah bentuk perlawanan dan resistensi.
Ballroom adalah sebuah subculture yang memiliki sejarah panjang sebagai ruang ekspresi dan perlawanan komunitas kulit hitam dan Latinx di New York, Amerika. Di dalamnya terdapat bahasa, tradisi, ritual, house, kategori kompetisi, serta jaringan komunitas yang terus berkembang hingga berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Ballroom mulai diperkenalkan dan dibangun secara serius pada 2023. Dalam kesempatan kali ini, Suara Kita berkesempatan untuk mengobrol dengan dua figur pegiat Ballroom dari Ballroom Indonesia, yaitu Danya dan Felicia. Keduanya menceritakan perjalanan mereka sekaligus bagaimana komunitas ini berusaha menciptakan ruang yang aman di tengah meningkatnya ancaman terhadap komunitas queer dan trans.
Dari Rusia dan Bangkok menuju Ballroom Indonesia
Danya, seorang multidisiplinari artis dan dancer, pertama kali mengenal Ballroom dan voguing pada 2019 ketika sedang berkuliah di Rusia.
Ketika pandemi COVID-19 terjadi pada 2020, ia menyelesaikan studinya dan kembali ke Jakarta. Bersama Felicia, dan rekan-rekannya yang lain, ia kemudian mulai memikirkan bagaimana membangun Ballroom Indonesia.
“Setelah workshop pertama, Felicia dengan Mother Asia, kita mulai berpikir bagaimana caranya kita ada Ballroom Scene di Indonesia,” ujar Danya.
Mereka kemudian mulai mengajar voguing dan menyelenggarakan berbagai acara. Salah satunya adalah Jakarta Vogue Night, yang kemudian berkembang menjadi Jakarta Kiki Ball dengan skala lebih besar. Komunitas juga mengembangkan kegiatan lain seperti Community Kitten Night.
Danya kemudian pindah ke Bali pada 2025 dan mulai memperluas jaringan Ballroom di sana. Kini, Ballroom Indonesia memiliki aktivitas di Jakarta dan Bali.
Selain membangun komunitas, Danya juga mendirikan Kiki House of Kans pada 2023, yang disebut sebagai Kiki House Lokal pertama di Indonesia. Saat ini terdapat tiga house yang terhubung dengan skena mereka, yakni dua house internasional dan satu house lokal.
Sementara itu, perjalanan Felicia menuju Ballroom bermula lebih awal melalui dunia tari.
Felicia telah berkecimpung dalam dance sejak sekitar 2013-2014, terutama waacking. Ia kemudian mengenal Ballroom sekitar 2016-2017.
Salah satu pengalaman pentingnya terjadi di Bangkok pada 2016. Saat itu ia menghadiri sebuah acara waacking battle yang berlangsung bersamaan dengan sebuah ball. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik awal keterlibatan Felicia dalam Ballroom.
“Setelah pengalaman di Bangkok 2016 itu, saya mulai menerjun ke Vogue dan Ballroom di Singapore dari 2017 sampai sekarang, di 2023 saat Ballroom Indonesia dimulai, kini aku lebih fokus ke Indonesia,” tambahnya.
Sebelumnya, Felicia juga pernah mengikuti kelas O.O.W. (Old Way atau Original Way of Vogue), bentuk awal voguing, yang dibawakan oleh Icon Koppi Mizrahi, salah satu pionir Ballroom Jepang.
Setelah melalui pengalaman di Bangkok dan Singapura, Felicia akhirnya kembali membangun koneksi Ballroom di Indonesia.
Pada 29 Juli 2023, ia bersama komunitas menyelenggarakan workshop bersama Legendary Mother Murmaid Asiah Juicy Couture, figur Ballroom asal Eropa yang memiliki heritage Indonesia. Workshop tersebut kemudian menjadi salah satu momentum yang dianggap sebagai kelahiran Ballroom Indonesia.
Sejak saat itu, berbagai kelas, community session, event, dan kolaborasi mulai dilakukan.
“Ballroom Indonesia dari 2023,” ujar Felicia. “Sejak itu sampai sekarang, we have been doing functions.”
Ballroom bukan sekadar voguing
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa Ballroom hanya berarti voguing. Bagi Felicia dan Danya, Ballroom merupakan sebuah budaya yang jauh lebih kompleks.
“Ballroom is a culture,” kata Felicia.
Budaya tersebut berkembang di New York sejak sekitar 1960-an sebagai ruang ekspresi bagi kelompok yang menghadapi diskriminasi rasial, homofobia, dan transfobia. Sejarahnya, komunitas yang tidak mendapatkan ruang dalam kontes kecantikan dan dunia fashion arus utama kemudian menciptakan ruang mereka sendiri.
Ballroom menjadi tempat bagi mereka untuk merayakan identitas, penampilan, kreativitas, dan berbagai bentuk ekspresi diri. Karena itu, voguing hanyalah salah satu bagian dari Ballroom. Di dalam ball terdapat berbagai kategori yang dapat menguji maupun merayakan kemampuan seseorang, mulai dari fashion, face, realness, body, hingga kreativitas.
“Bukan hanya segi nari saja,” kata Felicia. “Kita kan ada banyak kategori.”
Danya menambahkan bahwa Ballroom juga memiliki sistem kompetisi, bahasa, tradisi, ritual, serta house culture. Dalam sebuah ball, berbagai house dapat berkompetisi satu sama lain.
Konsep house sendiri memiliki hubungan historis dengan dunia fashion. House memungkinkan anggota komunitas membangun keluarga dan jaringan sosial sekaligus berkompetisi dan berkembang bersama.
Menurut Danya, Ballroom juga menyediakan ruang bagi orang untuk mengembangkan keterampilan yang pada akhirnya dapat menjadi karier.
Seseorang yang awalnya datang karena menyukai makeup, misalnya, dapat membangun portofolio melalui komunitas dan kemudian berkembang menjadi makeup artist profesional.
Karena itu, Ballroom bukan hanya sebuah event.
“Ballroom is a lifestyle,” kata Danya.
Danya menyebut skena Ballroom dapat ditemukan di Jepang, Korea, Cina, Argentina, Brasil, dan berbagai negara lainnya. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, Ballroom berkembang di banyak kota di luar New York.
Yang membuatnya menarik adalah adanya aturan dan struktur budaya yang relatif sama di berbagai tempat.
“Memang sama. Bukan kurang lebih,” ujar Danya.
Menurutnya, kesamaan aturan tersebut menjadi bagian penting dari autentisitas Ballroom. Seseorang yang datang dari Ballroom Jepang, Cina, Singapura, Rusia, atau Indonesia dapat memahami sistem ball yang sama.
Bagi Ballroom Indonesia, hal tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun skena lokal tanpa memutus hubungan dengan sejarah dan budaya Ballroom global.
Membangun ruang aman di tengah ancaman
Membangun ruang aman menjadi salah satu tantangan penting bagi komunitas Ballroom Indonesia.
Situasi yang semakin tidak ramah terhadap kelompok Ragam Gender dan Seksualitas membuat Ballroom Indonesia harus meningkatkan langkah mitigasi keamanan dalam setiap kegiatan. Felicia menjelaskan bahwa setiap function yang mereka selenggarakan memiliki prosedur keamanan internal.
Ballroom Indonesia adalah sebuah kolektif yang juga berkolaborasi dengan organisasi dan komunitas lain yang memiliki pengalaman dalam isu keamanan. Di antaranya adalah jaringan organisasi masyarakat sipil dan komunitas yang dapat membantu melakukan asesmen risiko maupun memberikan dukungan jika terjadi ancaman.
Danya menambahkan bahwa proses penyaringan dapat dimulai sejak pendaftaran. Peserta baru, misalnya, dapat diminta menjawab pertanyaan mengenai pandangan mereka terhadap keberagaman gender dan seksualitas. Dari sana, panitia dapat melakukan penilaian dan pemeriksaan latar belakang sebelum seseorang diperbolehkan mengikuti kegiatan.
Informasi lokasi juga tidak disebarkan secara terbuka pada hari acara, sementara dokumentasi atau publikasi dilakukan setelah kegiatan selesai.
“Double, triple verification itu sangat penting,” ujar Danya.
Namun, mereka menekankan bahwa langkah-langkah tersebut bukan jaminan keamanan mutlak.
“Setidaknya mengakomodasi keamanan untuk komunitas kita,” katanya.
Keamanan juga dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Peserta yang membawa teman baru, misalnya, ikut bertanggung jawab memastikan orang tersebut memahami aturan dan menjaga keamanan ruang bersama.
“Everybody plays a part,” kata Felicia.
Ketika kecemasan meningkat
Meningkatnya kasus persekusi dan fenomena yang mereka sebut sebagai “witch hunt” membuat rasa cemas di dalam komunitas ikut meningkat. Felicia mengatakan bahwa kondisi tahun ini membuat mereka jauh lebih waspada dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Lebih ada perasaan emergency, perasaan lebih anxious,” ujarnya.
Karena itu, mereka tidak berjalan sendiri. Ballroom Indonesia berusaha tetap terhubung dengan organisasi dan komunitas lain yang berada di lapangan sehingga dapat memperoleh informasi terbaru dan mengambil langkah jika terjadi sesuatu.
Danya melihat situasi tersebut dalam konteks sejarah yang lebih panjang. Menurutnya, pengalaman komunitas minoritas di negara lain menunjukkan bagaimana gerakan persekusi dapat berkembang menjadi sesuatu yang serius.
Karena itu, berbagai langkah keamanan kini menjadi bagian yang semakin penting dalam penyelenggaraan function.
Dalam beberapa acara, mereka bahkan menyiapkan kontak darurat, dukungan legal, serta prosedur mitigasi risiko apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan.
Namun dampaknya tidak berhenti pada persoalan keamanan fisik.
Danya menyebut bahwa tekanan yang dialami komunitas juga meninggalkan dampak emosional yang besar dan dapat menjadi semacam “collective trauma”.
Ketika kemerdekaan belum terasa merdeka
Agustus biasanya menjadi bulan ketika berbagai komunitas merayakan kemerdekaan Indonesia. Ballroom Indonesia pun pernah melakukan hal serupa. Dua tahun lalu, mereka pernah menyelenggarakan sebuah acara dengan tema Merah Putih.
Saat itu, menurut Felicia, situasinya masih berbeda. Ballroom Indonesia juga melihat momentum tersebut sebagai kesempatan untuk membawa nama Indonesia ketika beraktivitas di skena Ballroom internasional.
Namun tahun ini mereka memilih tidak mengadakan acara khusus untuk memperingati kemerdekaan. Keputusan tersebut tidak terlepas dari situasi yang mereka rasakan sebagai komunitas queer dan trans.
Felicia mengatakan bahwa ketika keberadaan seseorang sebagai individu minoritas saja belum sepenuhnya terasa aman, perayaan tentang kemerdekaan menjadi sesuatu yang kompleks.
“Existence kita sebagai individu yang identifikasi minoritas atau trans kan masih belum aman,” ujarnya.
Bagi Felicia, Ballroom kemudian menjadi salah satu tempat untuk mengekspresikan perasaan tersebut.
Voguing tidak hanya dipandang sebagai rangkaian gerakan tari. Bagi mereka yang memahami bahasa dan sejarahnya, gerakan tersebut dapat menjadi cara untuk membawa pengalaman hidup, kemarahan, keresahan, dan cerita personal ke dalam tubuh.
“Itu bukan gerakan doang,” katanya. “Itu benar-benar kayak … spiritual.”
“Kamu tidak sendiri”
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pesan yang ingin disampaikan Danya dan Felicia kepada komunitas Ragam Gender dan Seksualitas di Indonesia sederhana: jangan merasa sendirian.
Danya mengingatkan bahwa keberadaan komunitas sangat penting, terutama ketika seseorang merasa berhadapan dengan dunia sendirian.
“Kamu nggak sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, komunitas membuat perjuangan tidak lagi menjadi persoalan “you versus the whole world”, tetapi menjadi sesuatu yang dihadapi bersama.
Ia juga menekankan bahwa setiap orang berhak untuk hidup, mencintai, dan mengalami hal-hal positif tanpa harus merasa identitas mereka membuat mereka kurang berharga.
Felicia menyampaikan pesan yang serupa. Ia mengajak komunitas Ragam Gender dan Seksual untuk tetap saling terhubung, saling membantu, dan tidak kehilangan harapan meskipun situasi saat ini terasa seperti mimpi buruk yang berlangsung setiap hari.
“Kita strong as fuck,” katanya.
Bagi Felicia, kekuatan komunitas justru muncul ketika orang-orang dengan kemampuan dan pengalaman berbeda saling bergabung. Tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama. Namun ketika kekuatan tersebut dikumpulkan, komunitas dapat menjadi jauh lebih kuat.
Pada akhirnya, inilah salah satu alasan Ballroom tetap penting. Bukan semata karena voguing, kompetisi, kostum, atau pesta. Ballroom lahir dari kebutuhan untuk menciptakan ruang ketika ruang tersebut tidak diberikan oleh masyarakat.
Dan di Indonesia hari ini, bagi mereka yang membangunnya, Ballroom kembali menjadi tempat untuk bertahan, berekspresi, membangun komunitas, sekaligus mengingatkan satu sama lain bahwa mereka tidak sendirian.
Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda
Аналитика ИИ и парсинга
Технические детали обнаружения, сопоставления и связывания статьи
Поисковый запрос
«Индонезия Ballroom ЛГБТК+ безопасность»
Запрос, сгенерированный ИИ для поиска статьи в веб-источниках
Связанные результаты поиска
В маленьких городах и сельских районах мало знакомы с ЛГБТК+ вопросами, и путешественникам следует проявлять больше сдержанности. Дело не в опасности, а в уважении.
Одинокие ЛГБТК+-путешественники должны следовать тем же правилам безопасности, что и все путешественники.
В актуальных рекомендациях по поездкам и безопасности для Индонезии обращается внимание на ряд моментов, имеющих значение при планировании поездки.